Dalihan na tolu


Apa sih Dalihan Na Tolu itu? Memangnya ada pengaruhnya bagi kita, generasi muda Batak, yang telah memiliki cukup pendidikan, keterampilan kerja bahkan sudah merantau jauh dari Bona Pasogit (tanah leluhur Batak)? Mengapa setiap ada acara-acara adat Batak, tuan rumah akan sibuk menghubungi Ompunya (Opa & Oma), Tulangnya (paman dari pihak wanita), Udanya (paman dari pihak lelaki), Borunya (saudara perempuan), Berenya (keponakan / kemenakan)? Ribet banget kan? Nah loh, kalo nggak ada semua unsur tersebut, acara keluarga (adat Batak) akan dibatalkan nih? Atau cuma memberi kesan kepada khalayak ramai bahwa kita (tuan rumah) adalah orang terpandang yang memiliki banyak relasi? Atau cuma sekedar mengikuti atauran main sebagai orang Batak? Atau…masih banyaklah pemikiran-pemikiran lainnya menurut versi kita, generasi muda Batak. Iya kan…?

Menurutku pertanyaan-pertanyaan diatas adalah pemikiran wajar dari kita, generasi muda Batak, yang memang belum mengetahui atau belum terbiasa akan kultur budaya Batak. Di jaman sekarang, dengan kemajuan teknologi dan informasi, masalah-masalah keadatan suku Batak, yang terkesan rumit dan boros, sudah saatnya ditinggali. Ekstrim memang pemikiran ini, tapi tak bisa dipungkiri lagi, para generasi muda Batak lebih mengutamakan hasilnya ketimbang prosesnya. Artinya pingin cepat. Instant lah kalo aku istilahkan. Layaknya membuat segelas susu yang hangat dan nikmat.

Jujurnya sih, itu semua pemikiranku saja, sebagai orang Batak. Aku bosan dan jenuh dari semua kerumitan yang ada dalam tiap budaya Batak. Semua jerih payah yang kita lakukan, akan dinilai dari hasilnya kok. Tinggal kita pilih, mau cara mudah atau cara yang susah. Kalo diberikan pilihan seperti itu, pasti deh kita akan memilih cara yang cepat. Iya nggak…?

Tapi pilihan itu salah besar dan kita (genarasi muda) yang malah dirugikan. Apa sebabnya? Yah, melalui artikel ini, aku ingin sedikit berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang kesalahan atas pemikiran ku ini. Semua ini terkait akan Dalihan Na Tolu. Lebih tepatnya aku mengatakan akan masalah pemberian berkat atau bisa saja warisan. Nah loh, masa sih kita (genarasi muda Batak) rela menolak berkat?

Aku kaitkan dengan keyakinanku, Kristen Protestan (tapi semuanya ini bisa kok dikaitkan dengan keyakinan teman-teman pembaca). Aku teringat akan khotbah di Gerejaku beberapa minggu lalu, mengenai Yakub dan Esau. Inti dari khotbah tersebut adalah masalah bagaimana seseorang menerima berkat, apa yang dilakukanya hingga ia (Yakub) dapat memperoleh berkat dari ayahnya, yakni Ishak? Ada unsur “pilih kasih”, “rayuan” dan “rebutan”. Artinya ia (Yakub) berusaha sebisa yang ia lakukan (dengan bantuan ibunya) untuk menerima berkat. Ada usaha yang membutuhkan “kesabaran” yang dilakukannya untuk menerima berkat. Walaupun kesan ceritanya singkat, tapi kita harus tahu bahwa usaha yang dilakukan Yakub sangat lama (tidak dijelaskan oleh penulis Kitab Musa berapa lama waktu yang dibutuhkan), namun tersirat jelas, Yakub mengorbankan waktu yang lama. Hasilnya, Yakub menerima berkat yang mulia dari ALLAH (walaupun Esau juga menerima berkat, namun tidak “sebagus” Yakub).

Dari pemaparan singkatku ada 3 hal yang membuat seseorang dapat memperoleh kesuksesan, yakni Fokus, Kreatif dan Kerja Sama. Yakub mencurahkan segala usahanya untuk menerima berkat, apapun dia lakukan demi menerima berkat, termasuk merayu abangnya, yakni Esau. Yakub ulet akan perjuangannya, memikirkan dengan matang tiap keputusannya yang diambil. Untuk mewujudkan keinginannya, Yakub memikirkan segala cara untuk mewujudkan keinginannya, salah satunya dengan “sop kacang merah” andalannya. Selain itu, Yakub juga mempertimbangkan tiap keputusan bersama dengan Ibunya (istrinya Ishak). Terlibat sebuah jalinan kerja sama yang membuahkan hasil. Kesabarannya menuai hasil yang gemilang. Sekali lagi dia menerapkan 3 kunci kesuksesan, Fokus, Kreatif dan Kerja Sama.

3 Hal inilah yang sebenarnya menjiwai kepribadian orang Batak. Orang Batak cenderung memikirkan prosesnya ketimbang hasilnya. Kenapa? Karena orang Batak selalu percaya, bahwa usaha yang keras akan membuahkan hasil yang baik. Menurut orang Batak dengan perjuangan yang ulet, tentunya hasilnya juga akan baik. Orang Batak selalu berpikiran postif. Dalam tiap acara keluarga (adat), coba deh perhatikan orangtua kita, mereka selalu repot, sibuknya bukan main. Bahkan bila ada rapat keluarga (dalam rangkain adat Batak), mereka bisa lupa waktu. Seakan-akan, masalah yang mereka (orang tua kita) hadapi jauh lebih penting dari masalah yang dihadapi negara kita. Itulah orang Batak, mereka akan merasa puas bila kesuksesan yang mereka dapat adalah karena kerja keras mereka.

Dari situlah timbul pemikiran, bahwa untuk menghasilkan buah yang baik (berkat) diperlukan adanya keterlibatan dari semua pihak-pihak yang terkait. Dalam pengambilan keputusan (layaknya sebuah forum musyawarah yang formal), harus ada 3 unsur utama yang berkaitan erat yakni: pemberi keputusan (Hula-hula), penerima keputusan (Boru) dan pihak yang mempertimbangkan keputusan (Dongan tubu / Dongan Sabutuha). Selain itu juga diperlukan masukan-masukan dari pihak luar atau pengamat dalam pengambilan keputusan (Sihal-sihal). Semua istilah-istilah yang berkaitan ini disebut Dalihan Na Tolu. Semua pihak yang terkait saling bekerja sama untuk menghasilkan atau memutuskan sesuatu yang baik (berkat). Dengan kata lain, orang Batak itu berjiwa demokratis.

Pada kenyataannya (khususnya untuk kita, generasi muda Batak yang merantau jauh dari Bona Pasogit), unsur Hula-hula, Boru, Dongan Tubu dan Sihal-sihal ini tidak mudah ditemui dibanding di Bona Pasogit (Tanah Batak). Karena keterkaitan secara lansung hubungan darah sudah jarang ditemui. Oleh karena itu, bagi kita (generasi muda Batak) dianjurkan untuk lebih rajin membuka diri dengan lingkungan baru kita. Dan pada saat itu juga, kita akan dipertemukan secara tidak lansung dengan kawanua kita, yakni orang Batak. Aktif-aktiflah kita tiap ada acara-acara arisan / adat Batak, walaupun tidak semarga dengan kita. Lebih baik mengaktifkan diri pada saat urusan bantu-membantu atau istilahnya marhobas. Misalnya pas ada arisan di hari Minggu, kita datang membantu (dari urusan masak-memasak sampai urusan pasang-pasang tenda) pada sore hari sebelumnya, yakni hari Sabtu. Pokoknya usahakan deh jadi seksi sibuk dulu. Dari sana, kita akan banyak diajarkan dan diperkenalkan akan Dalihan Na Tolu, dan secara sadar atau tidak sadar kita akan mengerti dan mampu menerapkan Dalihan Na Tolu dalam kehidupan kita.

Aku juga pernah merantau, jauh di pulau Papua. Tepatnya di Kab. Teluk Wondama, Papua Barat. Sangat sedikit orang Batak disana. Di sana, seumurku semua bisa bahasa Batak. Dan seumurku, hanya aku yang tidak bisa bahasa Batak. Memalukan memang, tapi disana aku belajar jadi orang Batak. Modal awal aku membuka diri dari margaku dan nomor margaku. Aku mengatakan, hai, aku zuckh, Aku marga Hutabarat (Parbaju) mamaku boru Silaban (Sihombing), aku nomor 18. Aku bangga jadi orang Batak. Aku ingin masuk dalam sistim Dalihan Na Tolu.

Selamat merantau dan merubah mindset kita.

Tentang zuckh

Suka hal yang baru, lebih dan panas.
Pos ini dipublikasikan di Batak, Motivasi, Pengalaman, Sharing Knowledge dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Dalihan na tolu

  1. butterflystrong berkata:

    great!!
    emang sih, namanya proses adat batak itu ribet, mulai dari acara kelahiran, pertunangan, pernikahannya, upacara kematian, wuiihhh.. pokoknya semuanya harus dijalankan sesuai ketentuan tua – tua adatlah. Sangat dianjurkan sebelum merantau jauh, bertanyalah sama orang tua tentang silsilah marga / boru ( partuturan ) kita supaya ga malu – maluin, jangan sampai salah martutur.
    setuju???
    yukss..kita belajar adat batak, belum terlambat koq..
    ^_^

  2. anthony sidabutar berkata:

    Bener bgt tuh , klo bukan kita ( generasi muda batak ) siapa lagi ?

    ” Arga Do Bonani Pinasa “

  3. Pat HoeTAWest berkata:

    Amazing…. Masih banyak juga generasi batak yang menjunjung tinggi nilai batak…. Terus berjuang bro menaikkan nilai2 batak di generasi muda kita…. salam kenal aku juga Hutabarat Parbaju nomor 18….. GBU….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s