Untuk Terakhir Kalinya


Untuk terakhir kalinya, Ompung Kitty

Ompung…., ompung benar:
Ternyata, mencari makna kehidupan itu sangat susah.
Banyak pulau yang kulewati, namun tak satupun tujuan yang kudapat
Berbagai istilah kupahami, namun pengalamanku tak bertambah
Bahkan tak satupun orang mengakui diriku
Ilmuku belum seberapa dibanding mereka
Merekapun jauh diatas gunung yang menjulang
Susah, berat, aku ingin pulang….
Tapi itu bukan hidupku, aku masih mencari
Berikan aku waktu untuk terakhir kalinya……..

Dulu aku sering bilang, aku ya aku dan aku tidak sama seperti dia
Aku berkeras aku bukan dia dan aku bisa lebih dari dia
Pahamlah, yang membuat kita beda
Namun aku mengalah dan mencoba
Karena memang untuk terakhir kalinya

Ompung bilang…..
suatu saat aku harus berbuah
Menjadi pelita buat hidup dan kehidapan
Menjadi bapa Abraham dimanapun aku berada
karena namaku tercantum disana, engkaulah yang membuatnya
Dan menjadi batu karang, bagi keteguhan manusia
Berusaha menjadi dan lebih untuk terakhir kalinya

Terakhir kita bertemu, saat Dewata menampakan kasih sayangnya
Memeluk kasih, karena Ompunglah ibu bagi kami
Saluran perdamaian bagi kerasnya hati yang rapuh
dan untuk terakhir kalinya
Pada saat kemenangan Paskah,
Engkau berkata, untuk terkahir kalinya
Terakhir kalinya…
dan untuk terakhir kalinya……

Aku rindu
Racikan sop kaki ayam Ompung
racikan sayur pepaya itu
Pahit, pahit Ompung
Engkau marah, lalu ketawa dan berkata
Berkat bagimu karena kehidupan adalah pahit.
Lalu kenapa cumi itu tak kau beri kepadaku?
Dan kenapa engkau biarkan aku menangis
Aku merintih karena ingin, aku ingin makan cumi itu….
dan belajar memahami bahwa impian itu harus diraih bukan dicitakan
untuk terakhir kalinya

Ompung tidak punya apa-apa, selamat ulang tahun cucuku
Ingat akan kebesaran Penciptamu, itu jalan yang harus kau pilih
Bakarlah halangan tapi biarkan itu jadi pelajaran
Belajarlah dari pengalamanmu, kau bisikan kepada cucumu
untuk terakhir kalinya, selamat Paskah….

Mungkinkah….
Aku pergi bukan untuk meninggalkan
Karena memang waktu kita sangat singkat
Bukan engkau yang menginginkan
Tapi karena hati kita yang musti terpisah
Ini waktu, bukan takdir dan bukanlah kesengajaan
Aku yang berbuat, engkau yang menerima
Segala sesuatu pasti ada batasnya
Karena untuk terakhirnya kekekalan bukanlah aku dan engkau

Terakhir kalinya aku menangis
Terakhir kalinya juga engkau tertawa
Terakhir kalinya aku berkata
Terakhir kalinya juga engkau melihat
Bernafas dan berdenyut
Pergi untuk terakhir kalinya
dan tidak untuk terakhir kalinya engkau kembali

terakhir kalinya delapan puluh tahun enam bulan
terakhir kalinya, terakhir kalinya, dan untuk terakhir kalinya.

zuckh-wondama-2010-untuk terakhir kalinya “Ompung S. Nababan”

Iklan

Tentang zuckh

Suka hal yang baru, lebih dan panas.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Untuk Terakhir Kalinya

  1. livestream berkata:

    busyet dah mantep bener..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s