Dari air Tawar ke air Asin


Bosan, capek dan stress. Ditambah kondisi keuangan yang mulai menipis, membuat semangat kerjaku turun drastis. Ditambah cuaca di Kab. Teluk Wondama yang tidak pasti, membuat gairah untuk bekerja menurun. Belum lagi, kondisi “listrik” di kota Wasior yang tidak stabil, membuat pikiran dan badan tidak kompak. Di pikiran tuh maunya, ngolah data. Tapi badan berkata lain. Jadinya nggak jelas deh. Susah untuk diungkapin……….

Belum lagi, serangan virus edan yang masuk di laptop kesayanganku ini. Udah pake ANSAV, SMADAV sampe PCMAV, tapi kagak ngaruh juga. Padahal dari informasinya si PCMAV, ni virus namanya “Perfreg.B”, sebagain udah dibantai habis. Namun masih ada satu lagi yang sampe sekarang tuh nongkrong santai di folder RECYCLER. Dan si PCMAV dengan kecanggihan pembersihan paksanya pake FORCE MODE, tapi malah nyerah. Sedangkan si SMADAV, selalu aja bilang, registry ku terganggu. Trus untuk virusnya tidak ada. Lebih parah si ANSAV, dia melaporakan kalo laptopku sah-sah aja tuh. Oh tolong…..

Nah kalo mau dibiarkan terus-menerus kayak gini, di jamin Dinas Kesehatan Kab. Teluk Wondama bakalan buka RS. Jiwa dengan pasien pertamannya adalah diriku. Oh tidak….

Untunglah, melihat kondisi kejiwaan diriku yang mulai terganggu, pace-pace (panggilan akrab untuk masyarakat dari Papua yang berkelamin lelaki) dan tole-tole (panggilan akrab untuk masyarakat dari Minahasa yang berkelamin lelaki) menawarkan aktivitas baru, yakni Mancing ikan di Laut. Biasanya tuh, kalo kita lagi suntuk, “strom” belut jadi andalan atau paling tidak rekreasi di pantai Mawar, Sobei atau main-main ke kali Mawoi. Tapi kalo mancing ikan di laut. Ini termasuk aktivitas penghilang stress yang baru. (dan membuat aku kecanduan, wakakakaa……). Jangan heran baca tempat rekreasinya ya, soalnya disini tuh belum ada café, Mall, tempat karoke, bilyar, bowling, apalagi dugem. Jadinya back to nature (kesanya sok suci e…..)

Ternyata cukup banyak lho versi memancing ikan di laut. Mulai dari ala professional sampe ala tradisional. Bahkan ada juga lho cara yang cepat tapi berbahaya dan sangat merusak. Memancing ikan di laut itu juga tergantung dari cahaya bulan. Kalau bulan terang (bulan purnama) ikan yang ditangkap itu berbeda dengan ikan yang ditangkap waktu bulan gelap (bulan mati). Walaupun tekniknya sama, tapi jenis ikan yang didapat juga berbeda, tergantung umpan juga dan tergantung kemujuran. Kalo lagi apes, ya cape deh…..

Jenis umpan itu juga bervariasi, apalagi di jaman sekarang, umpannya udah bukan umpan ikan segar lagi, melainkan umpan buatan. Banyak di jual di pasaran, mulai dari yang paling mahal sampe yang paling murah. Tapi yang mahal belum tentu yang paling paling bagus. Semuanya itu tergantung dari kelihaian si pemancing dan modifikasi umpan yang menyerupai umpan benaran. Agak susah memang, tapi untung aja si Pace dan Tole, rekan kerjaku, memang hobi dengan beginian. Jadi tinggal minta dibuatin dan dimodifikasi sama mereka. (walaupun dengan sedikit bujukan, paksaan sampe ancaman, wakakakak….)

Nih beberapa aktivitas memancing di laut ala Om Pai (panggilan akrab bagi masyarakat asli Wondama) , Nap (panggilan akrab bagi masyarakat asli Biak), Mangge (panggilan akrab bagi masyarakat asli Palu), Tole (panggilan akrab bagi masyarakat asli Minahasa) dan Ofu (panggilan akrab bagi masyarakat asli Timor-Timor)

  1. Mancing Perahu

    Maksudnya tuh, mancing diatas perahu, hahahaha….Kirain mancingin perahu. Ada juga yang bilang sema-sema atau katinting. Beginilah kalo hidup dengan multi suku. Banyak sebutan istilah yang susah dimengerti namun sewaktu dipraktekin kita baru ngerti istilahnya. Inilah yang namanya kebudayaan yang majemuk. Sungguh mengesankan. Mancing perahu nih, mirip di acara Mancing Mania. Sayangnya peralatan yang digunakan masih bersifat tradisional. Tidak sehebat di acara Mancing Mania. Peralatan kita tuh cuma terdiri dari, Perahu (biasanya kita pinjam secara paksa, wkakakaak…..), mesin pendorong (biasanya kita sebut mesin tempel, jonson atau bisa juga yag lebih ekstrim mesin V, mesin silinder atau apalah itu…), dayung (lumayan untuk menumbuhkan otot biar gede), senar (ukuran 20 keatas dan tergantung ikan apa yang kita pancing), gulungan senar (biasa dibuat dari kayu, plasik, bamboo dan ada juga yang berbentuk lingkaran yang di jual di pasar-pasar), mata kail (ukurannya tergantung ikan), pemberat (biasanya disebut besi lot, musti berat, supaya bisa menahan arus dasar laut), jala (buat nangkap ikan yang udah terpancing), tombak trisula (biasanya disebut sosoroka atau kalawai, buat nombak ikan gede yang nakal), kotak ikan (biasanya di sebut box frezer, supaya ikan hasil tangkapannya tidak rusak akibat sengatan matahari.), sisanya ember, sncak, minuman ringan, sun block dan perlengkapan ngeceng lainnya (siapa tahu aja ada putri duyung yang terdampar atau ada cewek yang tenggelam dan butuh nafas buatan).

     

     


     

    Memancing di atas perahu ternyata sungguh menyenangkan, selain bisa menikmati aroma laut yang sungguh memikat, kita juga bisa menikmati pemandangan di sekitarnya. Ternyata pemandangan di Wasior tuh tak kalah hebat dengan Bunaken, Pulau Seribu, Lombok, Pulau Komodo bahkan Bali (auh, lebay banget…..). Ikan yang didapat tuh bervariasi, tapi pada saat itu kita semua targetnya nangkap goropa merah. Yang gede-gede biar pas bawa ke basecamp, pasukan turbo dapat jatah semua. Karena malas menggunakan teknik
    mancing pompa (ini teknik mancing buat umpan) buat dapat umpan, jadinya deh kita beli ikan puri (mirip ikan teri tapi gede banget, biasa disebut juga ikan putih, ikan kepala timah atau apalah namanya) di pasar. Namun goropa tuh paling doyan dengan ikan lolosi. Hmm…ikan momar bisa juga tuh jadi umpan. Eh, mengenai lolosi dan momar maaf ya, aku nggak tahu sebutan Indonya, apalagi nama latinnya. Jadi aku sebut aja momar dan lolosi sesuai sebutan ala Nap.

     


    Oh iya, kita juga bisa lihat ikan cakalang yang sedang bermain-main sama ikan puri, terus diatasnya banyak burung pelikan yang saling nyantap-nyantap ikan puri itu. Kalo lihat itu dari jauh, kesannya air laut “mendidih”. Nah, kalo pas yang begituan tuh, kita bisa menggunakan teknik pancing tunda (buat nangkap ikan cakalang), terus kalo banyak kejadian kayak gitu, pastilah ikan cakalang murah di pasar. Bagaimana seru nggak….???

     

  2. Buang Jaring

    Maksudnya tuh, jaring / jala ikan di pinggiran pantai. Tergantung ketinggian jaring juga sih. Semakin tinggi jaring, maka semakin dalam kita bisa menjaring ikannya. Dan semakin gede pula ikan yang kita dapat. Mengenai panjang jaringnya juga relatif, tapi biasa yang Om Pai atau Nap bikin tuh panjang 50 meter, tapi ada juga yang sampe 200 meter, kata Tole yang ngakunya dari Kapaitu. Dibutuhkan kurang lebih 5 orang untuk melakukan kegiatan ini. Dan tentunya work team tuh musti terjaga. 2 Orang yang pegang jaring, sisanya yang bagian ngusir-ngusir ikan supaya masuk di laut. Buang jaring ini juga nggak boleh sembarangan dilakuan, karena mata jaring bisa rusak tersangkut karang, kusut, bahkan bisa robek karena ikan gede yang nyangkut di jaring berusaha keluar dari jaring secara paksa.

     


     

    Ada beberapa teknik buang jaring baik secara manual maupun menggunakan mesin. Kedua ujung jaring di pegang oleh dua orang, terus ditarik ke pinggiran pantai dengan menutup kedua ujung jaring hingga membentuk lingkaran. Terus menerus hingga luasan lingkaran dirasakan cukup buat nangkap ikan yang tersangkut. Sebelum kedua jaring bertemu, sekitar 1 – 3 orang dari arah pinggiran pantai berlari-lari (mengusir) ikan supaya masuk ke daerah jaring dan mencegah ikan yang udah berada di luasan jaring tidak keluar. Cara ini bisa juga di lakukan di laut yang dalam. Dan tentu saja harus menggunakan perahu. Ukuran mata jalanya juga lebih gede dan panjang. Maklum ini untuk nangkap ikan yang gede-gede.

     


     

    Banyak teknik buang jaring sebenarnya, misalnya, dengan mengikatkan kedua ujung jaring di kayu atau bambu yang ditancapkan di dasar laut, lalu dengan teknik jaring persegi yang umum dilakukan di laut yang dalam, dengan teknik jaring tarik ataupun dengan jaring tunda. Ada yang masih konvensional dengan memanfaatkan arus dasar laut ada juga yang sudah canggih, dengan memanfaatkan sistim sonar bawah laut dan sebagainya.

     


     

    Oh iya, peralatan yang kami gunakan sebenarnya cukup simple. Yakni hanya terdiri dari jaring, dan karung. Panjang jaring yang kami gunakan hanya sepanjang 50 meter. Ketinggian jaring kurang lebih 1 meter. Dengan pemberat yang terbuat dari timah. Di pasar sebenarnya banyak dijual berbagai jenis jaring. Namun menurut Nap yang notabene sering bergeliat dengan urusan jaring ini, lebih baik jaringnya kita pesan di nelayan. Selain harganya lebih murah, rajutan jaring mereka dijamin keawetannya. Tinggal pesan aja tipe jaring yang kita minati. Oh iya, dengar-dengar nih, kalo mo pesan jaring ke nelayan, sebaiknya pesan ke nelayan lokal. Soalnya menurut Nap, karakter ikannya berbeda-beda. Benar nggak ya…????

     

  3. Mancing Cumi

    Nah, diantara semua aktivitas mancing yang aku ikuti, mancing cumi yang paling aku minati. Walaupun dibutuhkan kesabaran, satamina extra dan banyak pengorbanan. Soalnya aku tuh paling doyan dengan daging cumi. Kenyal-kenyal kayak permen karet gitu. Mau dimasak bagaimana pun, aku tetap doyan. Mancing cumi yang aku maksud disini adalah mancing suntung. Menurut pace-pace di Wasior, cumi tuh beda dengan suntung. Kalo suntung, ukurnya lebih gede ketimbang cumi. Namun tetap lebih kecil ketimbang gurita. Diantara beberapa jenis suntung, yang biasa kami dapat tuh jenis suntung batu dengan suntung bunga. Mengenai harga relatif, namun menurutku suntung apapun itu, tetap nikmat, wakakaka…..

     

    Mancing suntung tuh, musti dilakukan saat bulan terang (bulan purnama). Karena saat itu suntung pada “kelayapan tak karuan”. Bahkan mereka bisa bermain-main hingga tepi pantai. Mengenai umpannya, mancing suntung cukup menggunakan umpan udang. Namun biasanya sekarang tuh, digunakan umpan udang buatan, bisa dari kayu, karet hingga fiber. Warnanya pun relatif, ada yang warna merah, hijau, kuning dan ada yang berwarna kecoklatan. Tergantung selera saja.

     

    Teknik memancingnya sebenarnya cukup sederhana saja. Saat air laut surut, kita tinggal berdiri di pinggaran pantai dengan ketinggian air bisa setinggi lutut atau sampai setinggi pinggang orang dewasa. Selanjutnya senar yang ujung senarnya telah terpasang umpan udang buatan dilempar kearah laut sejauh yang kita bisa capai. Lalu tinggal ditarik secara perahan-perlahan. Ntar kalo waktu nariknya kerasa agak berat, berarti si suntung udah terpancing. Nah, disinilah dibutuhkan kesabaran dan stamina extra. Soalnya perbandingan antara lempar umpan dengan hasil tangkapannya tuh jauh banget. Bisa 1 : 100, wakakaka…..Namun inilah yang membuat harga suntung itu mahal di pasaran. Selian itu, karena kita mancingnya pada saat malam, terus musti masuk sedikit kelaut, telapak kaki kita sering secara tak sengaja menginjak batu karang yang tajam. Jadi deh luka-luka. Pedis euy……


     

    Namun, mancing suntung diatas perahu juga bisa dilakukan. Tapi musti di perairan yang agak dalam. Tekniknya sama saja seperti cara diatas, namun bedanya saat nariknya. Kalo diatas perahu, senarnya tinggal kita lilit di tangan atau jari kaki terus tinggal dayung saja, maka senarnya tertarik secara otomatis. Ntar kalo terasa agak berat baru deh kita gulung. Artinya si suntung udah kena.

     

  4. Molo

    Maksudnya tuh, nyelam ke dalam laut sambil bawa senapan berbahan kayu dengan amunisinya berupa besi panjang yang ujung depannya sangat tajam terus di bagian belakangnya dililit senar. Biasa juga disebut “jubi”. Molo (bahasa daerah Papua yang artinya nyelam. Layaknya snorkling, tapi kita harus nyelam hingga ke dasar laut). Nah untuk melakukan molo, sebaiknya dilakukan saat malam hari dan air laut sementara surut. Karena saat malam hari, umumya ikan-ikan pada bobo. Jadi tinggal gampang nembaknya.

     

    Peralatan yang digunakan juga sederhana saja. Peralatan ala Nap dan Tole ini terdiri atas senapan kayu (batang kayu yang dibuat menyerupai senapan), batang besi yang agak panjang (bisa 1 meter lebih), terus senter khusus bawah air (baterainya banyak banget lho…), jala yang telah diberi pelampung buat nampung ikan yang didapat, botol-botol air mineral lengkap dengan penutup, buat naruh rokok, korek, baterai. Sepatu untuk menghindari telapak kaki menginjak karang serta baju ketat berlengan panjang dan celana panjang ketat.

     


     

    Molo, sebaiknya dilakukan oleh yang berpengalaman karena teknik menyelam itu berbeda dengan berenang. Jadi musti mengetahui sedikit teknik-teknik nyelam amatir ala Nap dan Tole, hahaha….Selain itu, si penyelam juga harus mampu tahan nafas di dalam air cukup lama. Menurut Tole, dia mampu nyelam hingga kedalaman 15-20 meter (sampai telinga sakit) dan berada didalam laut hingga 10-15 menit. Bukan main, ni Tole sebenarnya manusia apa ikan yah…??? Tak kalah dengan Tole, si Nap juga mampu melakukan itu bahkan lebih. Namun seiring umur, bisa dikurangi lah, hahahaha…..

Sebenarnya masih banyak teknik mancing lainnya. Misalnya, pancing tunda, pancing pompa, jaring dasar, dll. Pokoknya banyak banget teknik mancing di laut. Sangat bervariasi dan menantang. Apa lagi saat umpan kita dimakan. Kita tuh harus menaklukan ikan itu sendiri. Nggak boleh dibantu oleh teman. Paling tidak dorongan semangat dari teman yang menjadi modal semangat kita untuk terus memancing. Apalagi memancing sambil ngunyah sawu (hawu + rema + kiru = pinang + sirih + kapur) lebih kerasa deh Om Painya, hahahaha…..Oh iya, karena kita mancingnya sifatnya refreshing, jadinya kita nggak terlalu fokus akan banyaknya hasil tangkapan. Berbeda dengan nelayan, yang memang banyakanya hasil pendapatan tergantung dari hasil tangkapan. Gitu……

Oke sekian dulu pengalaman penghilang strees dan kebosanan. Mungkin diantara teman-teman bloger’s dan pembaca ada yang memiliki pengalaman bahkan hobi yang sama, bisa berbagi cerita. Aku tunggu yah di komentar…..


 

Iklan

Tentang zuckh

Suka hal yang baru, lebih dan panas.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman. Tandai permalink.

2 Balasan ke Dari air Tawar ke air Asin

  1. pimen berkata:

    asal jgn memancing keributan ya gajah hehheeh…

  2. ib fbs indonesia berkata:

    What’s up mates, its wonderful paragraph on the topic of cultureand entirely explained, keep it up all the time.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s