Belut itu licin…


Aih,…inilah akibatnya kalo nggak tahu ngapain saat hari Valentine dan juga nggak tahu mau makan dimana saat hari Gong Xi Fat Cai. Habis mau bagaimana lagi, Valentine sekarang status nggak jelas, mau pesiar ke rumah teman yang merayakan Gong Xi Fat Cai tapi nggak ada juga, susah banget kalo begini!

Nah, nggak tau kenapa, ide untuk mancing belut pakai listrik atau biasa di sebut b’ strom belut ini muncul dari dalam otak yang sementara meraung kebosanan. Dan herannya juga, seluruh teman-teman BCN yang memang saat itu juga lagi sumringah dan uring-uringan lansung saja setuju dan bergerak untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari genset (generator set), jala dan stik, ember, kendaraan sampai parang dan pisau.

Kira-kira makan waktu hampir 45 menit lamanya perjalanan menuju Kali Warayaru dari hunian tercinta kami, yakni Base Camp PT. Binatama Cipta Nusa atau karena sakin gaulnya orang-orang sering menyebutnya Camp BCN.

Daerah Warayaru itu adalah daerah yang dipersiapkan oleh Pemda Kab. Teluk Wondama sebagai sarana program transmigrasi. Dengan program ini, diharapkan sektor pertanian dan kehutanan Kab. Teluk Wondama akan meningkat, dan tentu saja, akan meningkatkan kemakmuran masyarakat. Namun sayangnya, program transmigrasi ini belum berjalan secara maksimal, maklum saja, program ini baru dicanangkan 2 tahun yang lalu. Dan di daerah ini juga terbentang Kali Warayaru yang membelah daerah Warayaru menjadi 2 bagian.

Ternyata Kali Warayaru itu menyimpan pemandangan yang sangat eksotis dan benar-benar menantang untuk dijelajahi tiap sudut-sudut elokan aliran airnya. Selain memang terkenal sebagai sarana wisata lokal saat liburan, Kali Warayaru juga menyimpan Sumber Daya Alam yang melimpah, mulai dari bahan galian, hingga kekayaan sungainya (hewani). Untuk menangkap hasil ikan di kali ini memang banyak aturan mainnya. Namun prinsipnya cuma satu, jagalah lingkungan hidup anda dan berprilakulah yang sopan, jadi jangan coba-coba menabur racun atau pakai bahan peledak. Kalo melanggar, wuih…berat banget lho hukum adat yang berlaku di daerah Kab. Teluk Wondama ini. Jadi sebaiknya, taati sajalah atauran mainnya dan jangan serakah.

Dan b’ strom belut itu ternyata susah-susah gampang. Ditambah sumber listriknya harus besar, mengingat arus kali yang sangat deras, memaksa kita harus menggunakan genset. Tapi sebenarnya menggunakan aki / accu juga bisa, namun inilah kami, dibilang unik juga bukan, dibilang aneh rasanya kurang tepat. Mungkin lebih pas kalo dibilang kami ini kurang kerjaan, hahahaha……

Genset yang mampu menghasilkan arus listrik hingga 3000 volt ini mempunyai berat kurang lebih 50 kg. Jadi dibutuhkan 2 orang bertenaga extra, sedikit paksaan dan rayuan untuk memikul genset ini. Sehingga tujuan menangkap belut yang semula refreshing berubah deh menjadi olahraga angkat beban. Untuk memikulnya sih, kita semua gantian, mulai dari yang punya kesadaran paling tinggi sampe yang badannya paling kurus. Pokoknya semua harus dapat jatah. Tapi kalo urusan b’ stromnya sih harus dilakukan orang yang ahli atau setidaknya yang punya jam terbang b’strom yang tinggi. Alasannya, selain resiko ke-setrum yang tinggi, kelincahan sang operator untuk menaklukan si belut itu musti hebat.

Anehnya, saat buruan tak kunjung-kunjung dapat, kita sepakat untuk pergi lebih ke hilir. Demi mendapatkan jalur yang singkat, kita juga sepakat untuk memotong jalan. Yakni melintasi hutan Warayaru. Jadi deh, serbuan nyamuk-nyamuk yang terkenal akan keganasan malaria ini menyedot nikmat darah kita. Mati satu kenyang seribu. Mungkin itu prinsip nyamuk-nyamuk itu. Dan karena kita memang tidak ada persiapan untuk masuk hutan, jadilah kita domba masuk ke sarang serigala. Yang paling parah tuh, orang yang pikul genset, soalnya udah berat, tangan sibuk menyeimbangi beban genset, kaki goyang kiri kanan mencari tumpuan tanah yang baik, dan sisanya, adalah sasaran nyamuk untuk menyedot darah. Saat itu, rasanya aku ingin membuang bensin dalam genset, trus aku bakar dah tu hutan, biar nyamuk-nyamuk brengsek itu pada mampus, hehehe….


Namun disini kita dapat banyak pelajaran akan lingkungan hutan Papua yang masih alami. Dimana banyak sekali kita temui tanaman-tanaman yang berkhasiat untuk obat, rawa-rawa berlumpur hidup, serangga-serangga beracun, berbagai jenis burung yang berterbangan diatas hutan dan daun-daunan yang berbahaya bila tersentuh kulit manusia dan masih banyak lagi. Jadi keingat deh sama teman-teman Mapala yang paling hobi dengan yang beginian.

Setelah hampir 2 jam kita berputar-putar alias tersesat dalam hutan, akhirnya bunyi deras air Kali Waryaru pun terdengar. Tak heran, anak-anak BCN pada lompat kegirangan dan bersyukur kepada TYME karena kami bisa keluar dari ganasnya hutan Papua.

Setelah menarik nafas sebentar, sang operator storm pun mulai mempelajari karakter kali. Mulai dari kedalaman, kecepatan arus, dan pinggir-pinggir kali yang memang menjadi tempat favorit belut untuk tinggal dan bersembunyi. Makanan belut itu udang dan ikan-ikan. Giginya yang kuat ini ternyata mampu merobek jari manusia. Selain pinggiran kali, daerah-daerah pinggiran kali yang teritimbun ranting-ranting pepohonan ataupun tanaman bambu yang longsor ke dalam kali juga menjadi tempat persembunyain bagi si belut ini. Untuk mengatasi hal ini, maka diperlukan stik strum dan jala yang panjang. Selain itu, untuk meringankan beban si pemikul genset, kabel listrik yang perlu dipersiapkan haruslah panjang.

Acara pemburuan pun dilanjutkan. Yang namanya belut itu licin lho, dan semakin besar ukurannya maka semakin kebal juga dia akan arus listrik. Bahkan ada juga belut yang pintar, setelah dia terkena sengatan listrik dia pura-pura lemas, saat ditangkap untuk dimasukan kedalam jaring, dia lansung bergerak berusaha melepaskan diri dan hilang deh masuk ke dalam air kali. Jadi deh, acara kejar-kejaran dimulai, ada yang cegat di hulu ada juga yang cegat di bagian belakangnya, yakni hilir. Untungnya air di Kali Warayaru itu jernih, jadinya kelihatan dimana si belut itu melarikan diri walau agak kabur.

Karena keasikan b’ strom belut ini kita jadi nggak sadar kalo sang surya udah mau bersembunyi. Jadi deh kita segera bergegas untuk menyudahi kegiatan b’strom belut ini. Selain belut, berbagai jenis ikan juga kita dapat, mulai dari ikan Salamander, Gabus, hingga ikan Bolana yang memang terkenal akan kenikmatannya. Mengenai ikan salamander ini, pertama kali aku pikir ikan ini adalah ikan laut Bobara. Soalnya bentuknya mirip. Dan menurut cerita dari temanku yang juga merupakan orang asli Papua, ternyata dulunya ikan ini memang ikan dari laut yang terhempas ke daerah daratan dikarenakan amukan badai laut. Dengan berjalannya waktu, ikan Salamander ini berhasil berevolusi dan hidup di peraiaran darat. Lebih tepatnya di daerah rawa-rawa pinggiran kali. Ikan ini ternyata cukup berbahaya juga. Bila manusia terkena sengatan dari duri yang berada diatas punggunya itu ternyata bisa bikin kita sakit demam dan ujung-ujungnya malaria deh.

Alhasil, sekitar ½ karung 20 kg tangkapan belut dan ikan-ikan berhasil kita peroleh. Sebenarnya kita bisa nangkap lebih banyak dari ini, namun sekali lagi, kita harus mengikuti aturan mainnya, yakni jangan serakah.

Pukul 18.30 akhirnya kita kembali ke titik awal. Dan hampir ½ jam kemudian baru kita dijemput oleh teman kita yang membawa Dump Truck. Sangat melelahkan memang petualangan kita ini. Selain hampir terjebak di hutan Warayaru selama 1 ½ jam, menyelusuri kali Warayaru yang sangat deras, kita pun harus membiasakan dan merelakan badan kita untuk di gigit nyamuk. Namun sebenarnya setelah b’strom belut dan ikan ini, kita masih punya tugas penting. Yakni memasak…! Untuk urusan yang satu ini, aku angkat tangan. Soalnya kalo memasak memang aku paling payah, tapi kalo makan-makannya, aku yang paling hebat, wakaka….

Walaupun badan capek dan pegal-pegal, namun acara kita ini berhasil memanaskan kembali rasa kekeluargaan kita. Prinsip saling berbagi, saling mempercayai, saling mendukung dan gotong royong inilah yang kita harapkan untuk tetap terjaga. Mengingat esoknya kita akan mulai menjalani pekerjaan-pekerjaan jasa konstruksi yang memang terkenal sangat berat dan menantang. Tak kenal waktu dan tak kenal lelah. Yang penting kita bisa terus membangun dan berkarya untuk pembangunan Kab. Teluk Wondama.


Tentang zuckh

Suka hal yang baru, lebih dan panas.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman. Tandai permalink.

7 Balasan ke Belut itu licin…

  1. lupa berkata:

    ckckkckckckkkkk….g profesional!!!!!

    manuaaaallll kwaaa….
    heheheheeee…

    payah
    @_@

    • zuckh berkata:

      yoks na yo…

      Yap betul ini kan namanya sekali mendayung, 2, 3 pulau terlewati.

      Sekali berburu belut, ikan-ikan nyasar juga kami hajar, terus satu kali olah raga anngkat beban toh…..

  2. lupa berkata:

    hmmmm….bkn berburu belut klo pke sengatan listrik…
    ckckckckckckkk…

    msh hidup ng???
    sehat2 joo???
    ^_^

  3. donnie berkata:

    bagi-bagi oi tuh belut!!!!

  4. adhe berkata:

    mas…
    mau nanya ne…
    nyetrum ikan pake genset gmna??

    soalnya udh di coba hidupkan genset trus coba nyetrum dengan satu kabel atau dua kabel ..tp masih ndk bisa nyetrum…
    apa ada tambahan alat laen mas??

    • zuckh berkata:

      Ya nih, memang sangat merepotkan. Karena geset yang gede dan berat harus dipikul oleh 2 orang.Pikulnya pakai bambu yang diikatkan ke genset menggunkakan tali tambang. Ribet dah tapi seru, sekalian olah raga Нeheh…oh iya, kalau kayak gini musti ganti-gantian.
      Nah masalah nyetrumnya memang harus menggunakan 2 stik besi. 1 stik negatif dibuat menyerupai jaring. Sedangkan stik positif dibuat agak panjang. Gunanya untuk menusuk-nusuk bagian air atau lumpur tempat sibelut sembunyi.
      Dijamin dah si belut pada pusing2.

      Ok dah, selamat mencoba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s