Catatan Penting di Akhir Tahun 2009 – Manokwari


Udah lama aku nunggu hari ini, nggak kerasa aja tiba – tiba udah Natalan. Trus selanjutnya tahun baru deh. Semenjak tanggal 23 Desember 2009, memang akivitas di perusahaanku, PT. Binatama Cipta Nusa, sudah tidak sesibuk minggu – minggu sebelumnya. Padahal kalau aku flashback ulang minggu – minggu sebelumnya, wuih rasa – rasa aku udah mau pingsan aja. Bayangkan, semenjak udah mau tutup buku keuangan dan laporan akhir tahun, semua anak – anak PT. Binatama Cipta Nusa udah nggak kenal lagi yang namanya istirahat siang, coffee break (sore hari), sampe – sampe ada juga yang lupa mandi pagi, wakakakak….

Dan nggak kerasa, Natal tiba deh. Sayangnya, suasana Natal di Wasior (Kab. Teluk Wondama – Papua Barat) nggak se-“keren” di kota Manado. Nggak nyantol aja suasananya. Aku jadi rindu kota Manado. Tapi, basicnya tetap sama dong. Masuk Gereja (walaupun hujan), salam – salam Natal dan makan – makan di rumah relasi.

Trus, karena sebagian besar teman – teman di Base Camp PT. Binatama Cipta Nusa, tidak memiliki sanak keluarga di Wasior (termasuk diriku), maka kebanyakan acara Natalan kita di fokuskan di Base Camp kita (emagnya, mau dimana lagi coba…???), yah tentu saja dengan konsep kesederhanaan.

Oke nih cuplikannya,…. (oh, iya sebagian besar orang di sini pada nggak pake baju, maklumlah, Wasior itu cuma ada 2 musim. Musim panas dan musim panas sekali, hehehehe…. So jangan pada berpikiran negative ya…!)

  1. Ngitung duit dulu (ngukur kemampuan dana buat Christmast Party) trus hubungi teman-teman “sependeritaan” (biar rame acaranya)
  2. Foto pers (walau narsis, yang penting masuk internet)

  3. Makan-makan dan minum-minum (saguer Papua, BOBO, murah dan meriah, kikiki…..)

  4. Guy’s, habis dance udah boleh pulang ya……. Kan besok kita ke Manokwari!

Satu hal yang menarik dari perjalanan liburan di akhir tahun 2009 ini adalah, aku di beri izin oleh atasan, untuk jalan-jalan ke kota Manokwari-Papua Barat. Ouh, senangnya, padahal untuk pegawai baru (belum bekerja minimal 1 tahun diperusahaan) belum diberi kesempatan untuk minta izin liburan panjang lho….

Banyak hal menarik yang kutemui di Manokwari, mulai dari pola kebudayaan masyarakat setempat (mayoritas keluarga besar Mandacan), makanan khas Papua, sampai keindahan alam Manokwari yang eksotic. Belum semua tempat pariwisata sih aku kunjungi, namun sejauh ini, luar biasa. Masih perawan gitu…..

Selain itu di Manokwari, salah satu hobiku, yakni wisata kuliner, akhirnya bisa tersaluri lho. Selain harganya terjangkau, sarana dan prasarana angkutan darat juga terpenuhi dengan baik. Pokoknya, tiap tempat wisata yang kukunjungi wajib kujejali jenis makanannya. Dari makanan lokal sampe impor ku jabanin deh semua.

Penasaran dengan kota Manokwari, berikut beberapa tempat yang layak untuk dikunjungi

  1. COTO MAKASAR, mengisi kekosongan perut di pagi hari

    Ini yang membuatku aneh, nggak tahu kenpa, tapi setiba di Manokwari, eh malah coto makasar yang tiba-tiba masuk dalam menu pagi. Ada 2 tempat (menurut lidahku) yang menyajikan coto makasar yang enak di kota Manokwari, yakni di daerah Wosi dan Borarsi. Harganya juga masuk kategori standar.

  2. Kota SANGGENG, awal perkembangan Manokwari.

    Sebenarnya, kota yang satu ini, merupakan daerah kedua dalam pembangunan pusat perekonomian di kota Manokwari. Namun dilihat dari kemajuan perekonomiannya, kota Sanggeng, telah menjadi jantung perekonomian Manokwari. Mulai dari lokasi perbankan, pusat transaksi tawar menawar sampe sarana kuliner tersedia lengkap. Oh iya, daerah ini juga terkenal dengan daerah rawan. So musti tahu membawa diri dengan masyarakatnya.

  3. Sagu ditemani kuah kuning, namanya PAPEDA (makanan khas Papua)

    Katanya, belum injak Papua, kalo belum nyobaain papeda. Makanan khas daerah dari sagu ini, rasanya asam-manis-pedis gitu. Tapi itu semua sih tergantung selera yang makan, mau dibuat manis atau pedis??? Tinggal di “setel” aja bumbunya. Namun intinya, kalo mau makan ini, wajib dalam keadaan panas dan musti ada kuah kuningnya (bisa dari ikan, daging, atau sayuran).

  4. Katanya SAHABAT, kok di ….…?

    Oke, mengenai makanan yang satu ini, RW, aku akui, aku juga pernah merasakan kenikmatannya. Tapi dulu. Sebelum 7 ekor anjing kesayanganku di racuni oleh orang-orang biadab secara berturut-turut. Sialan mereka itu. Alhasil, aku berjanji, untuk stop mengkonsumsi makanan itu. Yah, tapi ada toleransi lah, dalam keadaa sadar, no way, tapi kalo dalam keadaan tidak sadar (mabuk) trus udah kelaparan banget dan tidak ada jenis makanan lain, sikat aja, hehehehe….

    Tapi namanya, kebersamaan musti di jagalah. Walaupun aku nggak ikut makan, bantuiin buat bumbunyanya kan sah-sah aja.

  5. Hujan KEMBANG API mewarnai Manokwari

    Ini baru bilang meriah. Busyet, dari awal bulan Desember 2009, hingga aku nulis artikel ini (pertengahan bulan Januari 2010), petasan, kembang api dan kawan-kawanya, udah berlansung. Non-stop gitu, nggak ada habis-habisnya. Pagi kalau pagi deh….Aku juga sempat mikir, “Kira-kira, berapa duit yah habis tiap harinya….?

    Dan yang paling dahsyat tuh, pas malam tahun baru, 31 Desember 2010. Rasanya kota Manokwari seperti masih di jaman peperangan. Tiap sudut daratan yang keliahatan, semua terlihat warna-warna ledakan.

  6. PANTAI MARUNI dan TELAGA MARUNI, sejarah yang terlupakan

    Yah, perjalanan di awal tahun 2010 ini, kita memilih lokasi Pantai Maruni dan Telaga Maruni, lokasinya di Distrik Manokwari Selatan. Dari kegitan ibadah sampai tempat yang mesra buat pacaran, kakaka……Walaupun berpasir hitam, keindahan pemandangan yang masih perawan ini yang membuat kita wajib “nyebur” ke pantainya.

  7. KALI MARUNI, mengingatkan kita akan keindahan dari ciptaanNya

    Nah yang satu ini, kali alias sungai, hehehe….tapi kebiasaan masyarakat, setelah “main” ombak di Pantai Maruni, “bilas”nya ya wajib di Kali Maruni. Masih sama di lokasi Distrik Selatan Manokwari. Aturan mainya cukup gampang, jagalah kebersihan dan jangan mandi pake underwear…..

  8. Tidak lengkap kalo udah di Maruni, tidak singgah ke 55 (lima-lima)

    Hohoho……Adult only. Ngerti kan masksudku? Lokasi ini cocok untuk menyegarkan pikiran dari kepenatan rutinitas pekerjaan kita sehari-hari. Kompleks lima-lima yang berada tak jauh dari kali Maruni ini, distrik Manokwari Selatan, menawarkan segudang hiburan, dari fasiitas karoke, dikostik hingga “esek-esek”. So, buat yang “haus”, musti wajib pake “helm”.

  9. Dari yang membosankan sampe yang mendebarkan.

    Menurutku memancing agak membosankan. Karena harus sabar menunggu dan menunggu umpan kita di makan oleh ikan. Dan boleh juga dibilang kadang-kadang kita ngasih makanan gratis buat ikan-ikan. Berada di lokasi SP 4, Manokwari Selatan, pada saat liburan, wuih, orang yang datang ramai banget. Memang cocok untuk liburan keluarga, Lengkap fasilitasnya, dari mancing-memancing, flying fox, panjat tebing, maen “bebek-bebekan”, restoran, penginapan sampe badminton indoor.

  10. Dari hulu ke hilir, BENDUNG SP 4

    Nah, masih ingat tentang mata kuliah sitim irigasi dan bangunan irigasi. Wilayah SP (Sarana Pemukiman) jawabannya. Daerah ini merupakan lokasi transmigrasi, perkebunan dan pertanian. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan akan pangan dan industry, maka daerah ini memerlukan sistim irigasi yang terencana oleh pemda Manokwari Selatan. Khusus di daerah SP 4, terdapat bangunan irigasi berupa bendung. Namun orang awam sering menyebutnya bendungan. Ayo, apa bedanya…? Lokasi bendung ini dimanfaatkan oleh masyarakat di manfaatkan sebagai tempat rekreasi. Namun, sayangnya, pemerintah masih kurang memperhatikan tempat wisata yang satu ini, khususnya masalah keselamatan pengunjung.

  11. Hore…., aku nemuin Wi-Fi

    Sialan, susah benar aku mau browsing dengan nyaman dan tentunya dong yang cepat. Untuk urusan pekerjaan pun, aku mesti nanya kiri-kanan buat ngenet. Khususnya yang bisa wifi. Eh untungnya sebelum aku balik ke Wasior, aku dikasih tahu tempat2 yang keren, nyaman dan cepat, misalnya di Wifi Café di Sanggeng, Swissbell Hotel di Wisri, dan STIH Warnet di Sanggeng. Oh iya ada juga tempat maen game LAN. Umumnya mereka maen DOTA-warcraft-the frozen throne. Sayangnya, aku dihajar habis-habisan, wakakak…..

  12. WISRI jalan bawah, kentalnya budaya Papua

    Daerah pinggiran pantai. Mayoritas penduduknya bermata pencarian sebagai nelayan. Daerah ini pernah menjadi korban amukan bencana tsunami, tapi tidak separah di Aceh dan sekitarnya. Walaupun banyak menyisakan kenangan pahit akan bencana tsunami, namun berkat kepercayaan masyarakat akan jaminan pemerintah setempat, daerah ini kembali dibangun. Dan tentu saja, dilengkapi dengan teknologi pemantau bencana tsunami di beberapa titik. Namun sayang, kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan kurang diperhatikan.

  13. Aaaaa…..ku lupa bawa kamera, Pantai Pasir Putih, Pantai Ridho, Pantai Awori, Pantai Bakaro

    Nyesal…nyesal banget. Bisa-bisanya kamera kesayanganku ketinggalan di kamar. Nggak nyangka aja waktu mau mengunjungi salah satu rekan kerja kita di daerah manokwari Utara, kita lewat di jalur pantai utara Manokwari. Daerah pesisir pantai yang berpasir putih dan berkarang ini kita bisa lansung melihat pulau Lemon dan pulau Mansinam. Dari pusat kota Pantai Pasir Putih pertama kali yang akan kita jumpai, selanjutnya Pantai Ridho, Pantai Awori dan terakhir Pantai Bakaro. Menurutku, untuk liburan keluarga maupun untuk hangout bareng teman atau pacar, tempat wisata ini layak menjadi pilihan utama.

  14. Ayo buang sampah di Sowi.

    Ini sih namanya sekali mendayung, 2, 3 pulau terlewati. Yah, gitu deh, sampah di kantor sekaligus penginapan gratis kita ini udah menumpuk dan dinas kebersihan juga belum muncul-muncul. Dan timbulah ide garing untuk buang sampah di TPA Sowi, Marampa, Manokwari. Dan karena kita juga akan pergi ke Oransubari, jadi tak ada salahnya dong kalo kita membuangnya di TPA Sowi. Eh, sayangnya di ¾ perjalanan, radioator mobil kita bocor. Untung aja, chief mekanik kita ikut, jadi tambalan lem besi pun menjadi alternative utama di tengah-tengah hutan. Oh iya, kalo belum tahu intake air bersih itu kayak apa, sebaiknya datang deh ke daerah ini.

  15. Selalu aja naik…naik…eh ada tikungan tuh, di Acemo sampe di Sayori

    Ouh, bagi yang belum berpengalaman sebainya menghindari mengisi jabatan sebagai sopir sewaktu melintasi daerah ini. Seram amat deh. Di sebelah kanan tebing tinggi rawan longsor, di sebelah kirinya tebing curam berpapasan dengan laut lepas. Ini adalah jalan trans yang menghubungi Kab. Manokwari dengan Kab. Teluk Bintuni. Banyak cerita lucu sepanjang perjalanan kita ini. Mulai dari cerita kebangkitan sampe kecelakaan. Belakangan cerita-cerita horror juga ikut-ikutan. Sialan. Ah, tapi aku suka banget lho pesisir pantainya yang ombaknya kencang banget.

  16. Penutup Kisah di Oransubari Tok…tok…”Om kabo ada…?”. Yah adalah, kan kemaren kita udah bilang kalo kita mau grebek di di rumah. Oransubari, sejauh mata memandang hanya sawah dan sawah. Ya ialah, kalo nggak ada daerah ini, mungkin orang-orang di manokwari bisa kelaparan, wakakaka… Nah lho, terus siapa nih yang nyuri bebek???

cuplikannya…..

Ouhhhhhhhh………..,1 bulan di Manokwari, rasanya nggak cukup banget deh. Nambah dong…..!!!

Iklan

Tentang zuckh

Suka hal yang baru, lebih dan panas.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman, Sharing Knowledge. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Catatan Penting di Akhir Tahun 2009 – Manokwari

  1. Sjeem Ahmed berkata:

    Nice resort for vications
    To find relevant job and get hire in good organization Create Your Resume Here ::
    Find Jobs in Middle East Countries Jobs in Pakistan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s