Proyek Mendahului


Benar-benar bikin pusing….

Dulu, sewaktu masih berstatus mahasiswa, yang namanya proyek itu harus melewati proses tender. Namun kenyataanya, proyek berjalan dulu baru deh dibuat proses tendernya (rekayasa).

Kondisi ini mungkin terjadi, khususnya di daerah yang masih dalam proses membangun. Bisa juga untuk daerah kabupaten baru. Dengan kata lain para invenstor (kontraktor dan konsultan) harus berani menanamkan modal mereka.

Secara aku bekerja di dunia jasa konstruksi, khususnya kontraktor, maka aku membuat artikel ini berdasarkan kacamata kontraktor. Bukan konsultan (perencana & pengawasan) dan bukan juga owner.

Prosedur proyek mendahului (kurang lebih):

  1. Pekerjaan dilakukan atas permintaan suatu instansi/ dinas pemerintah. (mirip penunujukan lansung)
  2. Perencanaan pekerjaannya dilakukuan oleh konsultan perencana dengan petunjuk lansung dari instansi/ dinas pemerintah (owner).
  3. Anggaran biayanya mengikuti OE kontraktor dengan catatan tidak melewati EEnya owner.
  4. Kontraktor dapat bekerja tanpa adanya SPMK.
  5. Pembayaran atas jasa kontraktor (termijn), dilakukan bila sidang anggarannya keluar (dana DAK, DAU, OTSUS dan Ad Hook). Jadi kalo nggak keluar, yah sabar-sabar aja deh…
  6. Bila anggaran keluar, baru deh dibuat proses tender (rekayasa) namun musti memenuhi persyaratan teknis lho.

Oh, iya sebelum menganggap proyek mendahului itu “kurang ajar”, sebaiknya kita harus tahu dulu yakni:

  1. Semua perencanaan (analisa dan desain) sudah ada terlebih dahulu. Ini bisa terjadi karena anggaran untuk perencanaanya jauh lebih kecil dari anggaran pekerjaanya. Sehingga, kontraktor sewaktu bekerja, dapat menjaga kualitas dan kuantitas proyek. (ingat, orang teknik bekerja berdasarkan hitungan dan gambar).
  2. Direksi Teknis, PPTK, Konsultan Perencana dan Konsultan Pengawas, semuanya terlibat di dalamnya. Gunanya yah itu untuk mencegah kontraktor yang nakal.
  3. Sebelum memulai pekerjaan, kontraktor wajib memasukan OEnya beserta analisanya. Artinya nilai OE tidak turun lansung dari langit. Ini berguna sewaktu proses pemeriksaan yang dilakukan INSPEKTORAT/BAWASDA (Badan Pengawasan Daerah) dan BPKD (Bdan Pemeriksa Keuangan Daerah) atao BPK Pusat (Badan Pemeriksa Keuangan Provinsi/Pusat).
  4. Selain itu, kontraktor wajib melebihkan nilai volume pekerjaan dilapangan, yang nantinya dilaporkan dalam Backup Data Quantity. Maksudnya untuk mencegah terjadinya kekurangan volume. Karena proyek mendahului sering terjadi adendum volume dan harga satuan.
  5. (ini yang kurang ajar), karena belum ada SPMK, maka kontraktor belum bisa buat jaminan pelaksanaan pekerjaan (asuransi). Artinya kontraktor belum bisa “kredit” modal di bank, hehehe…
  6. Untuk mengantisipasi pelaksanaan pekerjaan, maka dokumentasi, laporan harian, mingguan dan bulanan (MC/Monthly Certificate) musti wajib dibuat kontraktor.
  7. (ini juga kurang ajar -tapi jarang terjadi), sering terjadi perseteruan antara sesama kontraktor. Mengapa…? Sewaktu ditunjuk melaksanakan pekerjaan adalah kontraktor A, namun sewaktu SPMK keluar, malah kontraktor B yang disuruh bekerja. Anehkah…?
  8. (gara-gara yang ke-6), alhasil, sewaktu pembayaran pekerjaan, antara kontraktor A dan B selalu ribut akan volume pekerjaan yang dilakukan. Nah lho, kalo udah begini, para pekerja masing2 kontraktor musti siaga penuh, wakakakak…semoga jangan terjadi

Jadi gitu deh, bikin pusing….

Nb:

  • ada yang punya PBI-71 nggak??? kalo ada aku minta dong.
  • ada yang punya SNI tentang perkerasan jalan dan sejenisnya??? yah, kalo ada boleh berbagi sama aku ya….
Iklan

Tentang zuckh

Suka hal yang baru, lebih dan panas.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman, Sharing Knowledge, Teknik Sipil. Tandai permalink.

6 Balasan ke Proyek Mendahului

  1. roy singal berkata:

    fren, kalo pa qta ada stouw tu PBI-71, kalo SNI perkerasan jalan nti qta tnya pa anak2 trans di lab, paling ada pa dorang….

    btw, pa kbr bro…???
    jang lupa kalo da proyek2 bgt pangge2 pa torang dsn…

    btw, qta lagi bljr nge-blog bgt, kase tips n trick dang….?? kalo ada dp penuntun pembuatan blog tlg kirim akang dp file ato dp link….

    jg lupa email fren……….

    • zuckh berkata:

      Oh iyo. Io kita kwa mo bandingin tu PBI’71 vs SNI 2003. Napa para tua2 civil engineering disini pada keras kepala tentang PBI. Padahal kita so jelaskan sekarang tu jamannya facebook, eh salah, maksudnya sekarang udah bukan jamannya pake metode kuat batas. Mar dorang pe alasan jago kwa, biking kita ta badiam. Dorang bilang, torang dulu ja desain jembatan pake PBI kong sampe sekarang belum rubuh2 tu jembatan. Ng tau sendiri toh daerah Papua masuk zona rawan gempa. Mar masih utuh tu jembatan. Nah kita yang so bingo mo berdebat deng dorang. Jadi kurang pasrah aja.

      Iyo, kalo ada kirim via email pa kita ne bro. Soalnya tu jalan, masuk analisa SNI deng jembatan. Divisi 4 kalo nggak salah (perkerasan beraspal). Kong namanya kontraktor, jadi semua koefisiennya udah di modif habis. Kita sendiri so bingo, ni koefisien dapat dari mana. Ato mungkin jatuh dari surga stou kang????

      Oke bro, thks banyak. Io, ngeblog mengasikan. Palingan ntar nt kecanduan, terus lupa makan sampe-sampe bisa lupa kalo so ada pacar. wakakaka….. Kse tau e np alamat blog, ntar aku tautkan di blogroll ku.

      Salam buat pasukan disana, bilangin aku rindu CT Manado. habis disini bobo terus……

  2. Roland Zet berkata:

    qt ada SNI for perkerasan jalan……………..cm suka yg lebe lengkap, tanya jo p raja jalanan (ACUL)…….ato tanya jo p tman2 yg kena pelanggaran HAM di kampus ( yg ganti NRI )..wkwkwkwkkwkw,-red

  3. Roland Zet berkata:

    eh,,Pai..rupa gaga ng p artikel judul “Bila Aku,,,,”….bole mo copy-paste d FB??mo jadikan status,,,,hhhhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s