Sepucuk surat Paskah


Nggak tahu kenapa, pada saat – saat menjelang paskah ini, aku harus bergulat dengan waktu untuk melengkapi semua berkas – berkas lamaranku. Dan nggak tahu kenapa, ketika aku sedang mengurus berkas – berkas tersebut, aku menemukan 2 lembar surat yang dibuat pada tanggal 18 April 1984 di tas arsip – arsip ijasahku. Warna lembar kertas yang sudah kusang menunjukan bahwa surat ini sudah tua dan tulisannya pun masih di ketik menggunkan mesin ketik. Tidak perlu waktu lama bagi diriku untuk mengenali siapa penulis surat ini. Karena aku mengetahuinya pada bagian bawah surat itu, yakni: Ompu Ketty Maulina Hutabarat. Yah, almarhum adalah Ompung Doliku (opa) dari pihak Bapakku.

Mimik wajahku yang sebelumnya terlihat begitu serius menjadi berubah haru dan sedikit tertawa geli atas surat yang baru saja kubaca ini. Ditambah miminnya pengetahuanku akan bahasa Batak, membuat diriku sedikit terbata – bata membaca isi surat ini. Namun dengan sedikit bertanya – tanya kepada orang tuaku akan kata – kata yang tidak kumengerti, akhirnya keseluruhan isi surat ini dapat kumengerti.

“Selamat Paskah, untuk Mami tercinta , Ama ni Ketty, Parumaen Nai Ketty, teristimewa untuk cucuku tersayang Ketty yang genit dan si Putra Dewata Bali alias Unsok….” Sepenggal baris pertama sebagai pembukaan ini menunjukan bahwa pada saat itu masih sementara suasana Paskah (Hari kebangkitan/ hari kemenangan bagi agama Kristiani).

“Horas..!! Hipas do hami ditinggalhon surat on laos arop do rohanami hipas hamu dison didapat suratnami on. Surat John 09-04-1984 sahat do tu hami tanggal 16-04-1984. Mauliate ma di Debata ala hipas do hamu dison jala Mami pe selamat – selamat sahat di Bali on! Semoga mami cukup gembira menggendong cucu putranya dan menikmati pulau Bali sampai puas. Tentang nama cucuku, Ompung tidak ada pilihan lain dan sewaktu telegram John sampai di Rampah. Nama yang lansung saya ilmahami hanyalah: MARISI BERLIANDari alinea kedua ini, sebenarnya tampak suatu kegelisahan yang ditunjukan almarhum atas kepergian sementara istrinya (Ompung Boruku) ke Pulau Bali untuk menggendong diriku yang baru saja lahir sebulan yang lalu. Namun kesepian itu dapat terobati karena almarhum dengan keyakinannya menitipkan sebuah harapan masa depan yang cerah kepada cucunya dengan turut memberikan dua buah nama kepada diriku.

Sebelumnya aku juga sempat memikirkan latar belakang nama “MARISI BERLIAN” yang terselip indah di tengah – tengah nama lengkapku….“Papi tidak tahu dari mana datangnya ilham nama ini dan jika berkenan dihati Papa dan Mamanya, itulah nama dari Ompung Delinya. MARISI adalah kata – kata dari MART yang mana tiga orang dari kami lahir di bulan Maret yaitu: 1. Amanganya Rudolf (11 Maret), 2. Ompung Deli (15 Maret) dan 3. Putra Bali sendiri (28 Maret). Dengan demikian bulan Maret adalah bulan yang berisikan tiga tanggal: Ompung Deli, Anak Siampudan dan cucu pertama anak laki – laki pertama. Sedangkan kata BERLIAN adalah mengingatkan Pulau Bali dan semoga membawa kecemerlangan seperti berlian yang bercahaya hidup. Semoga Tuhan merodohi nama cucuku tersayang.”

Dan seterusnya, berita dari Rampah untuk Ompung Boruku (istri almarhum Ompung Doliku), Rencana anak – anak (amang uda dan inang boruku – adik dari Bapaku), keadaan ekonomi keluarga yang menurun karena almarhum belum menerima gaji, serta keadaan ternak dan ladang yang stabil.

Di penutup surat itu, tak lupa almarhum menunjukan keahlian penyair melayu yang terpendam dalam dirinya:

M – ARET 28 – 84 DIKALA SANG SURYA TERANG BENDERANG

A – YAH DAN IBUMU MENYAMBUT KELAHIRANMU

R – ABU YANG PERMAI HARI JADIMU

I – MPIAN KAMI MENJADI KENYATAAN

S – AMPAINYA ANUGERAH TUHAN

I – NDAH BAHAGIA DALAM KELUARGA KITA

B – ALI TERKENAL DENGAN PULAU DEWATA

E – NTAH KENAPA KAU DILAHIRKAN DISANA

R – INTIHAN DAN TANGISMU MENGGEMA DI UDARA

L – ALU MAMA DAN PAPAMU TERSENYUM

I – INILAH RAHMAT TUHAN BAGIMU DAN BAGI KAMI

A – PAPUN YANG TERJADI TAK BOLEH KAU LUPAKAN PENCIPTAMU

N – AMAMU HARUS BERISI DAN CEMERLANG SEPERTI BERLIAN

Oh aku jadi menyesal, namaku yang terlahir saat – saat orang Kristiani menyiapkan hati dari minggu – minggu sengsara (passion)hingga kebangkitan Yesus Kristus (Paskah), aku malah menyibukan hati dan pikiran atas sesuatu yang tidak aku ketahui ujungnya itu……..😦😦😦

Tentang zuckh

Suka hal yang baru, lebih dan panas.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s