Buddhist Festival


Udah pada pernah baca komik Tapak Budha, belum…? Salah satu karya Tony Wong, komik bernafaskan kugfu dan penyebaran agama Budha demi memusnahkan para penjahat yang tak ber-Welas Asih.

Emang belum tamat, namun dulu aku sempat bertanya – tanya:

“Nih pengarang bisa buat komik keren kayak gini, sumber ceritanya dari mana yah…?”.

“Apa cuma memanfaatkan daya khayal..?

“Trus, kalo begitu, apa nggak terlalu memaksakan, mencampur cerita kungfu yang berlatar belakang agama…?”

Namun beberapa jawaban diatas kayaknya terjawab sudah dengan kehadiran diriku di “BUDHI’S FESTIVAL”. Kalo di terjemahkan secara lansung menurut kosakata kamus bahasa Inggris dalam otakku, artinya Festival Budha atau mungkin bisa juga Festifal Kebudayaan Agama Budha. Dan dengan bermodalkan Rp.5000, aku dan Epeng bisa masuk, dapat rokok “Red Mild” lagi (kalo yang ngakunya merokok).

Festival ini di buat di kawasan parkir Mega Mall, tempat yang biasanya digunakan untuk pelataran parkir kendaran motor roda 2, kini di sulap menjadi “labirin” beraturan. Sepanjang labirin masuk, kita akan diperkenalkan akan cerita/sejarah lahirnya, perkembangan, penyebaran sampe tingkat pertumbuhan dari Agama Budha di seluruh dunia.

Berdasarkan kunjunganku (kesanya kayak melakukan kunjungan dinas yah…?), semua unsur yang bernafaskan agama dan kebudayaan Budha semua tersaji dalam 5 bentuk. Apakah ada kaitannya dengan yin dan yang? Hmm, itu semua Cuma menurutku saja. Dan tidak bisa di buat sebagai patokan, hehehe.

Yang pertama, setelah melewati pintu masuk, pengunjung pasti akan terkesima lewat tampilan dinding – dinding, sebagai pembatas lorong dalam labirin beraturan tersebut. Dinding yang tebuat dari sekat tripleks atau multipleks itu selanjutnya difinishing dengan material bebatuan halus, yang biasa di lihat dalam candi – candi ataupun seperti material yang digunakan untuk waruga. Namun itu semua hanyalah gabus, yang di potong2 dan di beri gradasi warna hitam putih menurut gradasi material tersebut. Pada bagian atasnya di beri warna kuning yang berbahan kain. Keren kan…? Bagian pertama dari lorong ini, pengunjung akan diberikan wawasan mengenai bukti – bukti sejarah yang berhasil ditemukan. Dengan adanya bukti yang kuat, berarti akan memperkuat fakta, bahwa ajaran/aliran Budha memang pernah ada di dunia ini. Betul nggak…? Mulai dari candi – candi yang ada di Indonesia, sampe rupa – rupa arca sebagai simbol pemujaan bagi pemeluknya. Ternyata bentuk arca rupa Budha tersebut sangat beragam. Ada beberapa yang mirip kalo kita perhatikan dengan gambar di komik Tapak Budha. Ini merupakan sebuah jawaban, yang menunjuk bahwa, pengarang mengadopsi ceritanya berdasarkan sejarah ajaran agama Budha. Hebat kan…?


Yang kedua, kita akan dituntun untuk menikmati cerita/sejarah lahirnya ajaran Agama Budha sampe penyebarannya. Bukan saja berupa bentuk tulisan, tetapi diberikan visualisasi, berupa miniatur/maket yang lengkap dengan tokoh2 yang memerankannya. Yang lebih mengesankan ialah, panitia juga akan menceritakan dari awal sampe akhir. Mirip dongeng (sayangnya dongeng tidak memiliki visalisasi gambar yang banyak). Mungkin lebih tepat kayak wayang golek. Akupun sempat memperhatikan beberapa anak kecil yang dengan serius mengikuti cerita2 tersebut. Memang menarik, selain memberikan pengajaran akan sejarah agama Budha, mereka juga bisa melatih imajinasi mereka. Aku pun mengakui, ketekunan sang arsitek untuk membuat miniatur tersebut, selain tiap tokoh harus ditampilkan secara sempurna, mereka juga memberikan efek pencahayaan yang bervariatif. Sehingga sesuai dengan tema utama tiap cerita. Dan agar tidak membingungkan pengunjung, maka tokoh utama di balik cerita tersebut, ukurannya dibuat lebih besar dibandingkan tokoh lainnya. Dan secara tidak sadar, akupun seperti membaca komik Tapak Budha, yang mengedepankan “Welas Asih, Kebijaksanaan dan Keadilan” untuk mengahadapi segala rintangan/musuh. Benar2 kreatif…!





Yang ketiga, adalah pengenalan akan kitab2 Budha. Mulai dari pembagiannya hingga maksud dan tujuannya. Sangat beragam, namun kesemuanya saling melengkapi. “Kalo cuma salah satu bagian yang kita pelajari, maka kita tidak akan mendapatkan apa2 dari ajaran Budha ini. Kita harus mempelajari semua dan mengamalkannya dalam lingkaran kehidupan kita”. Kalimat sederhana yang disampaikan oleh salah satu panitia yang mendampingi kami. “Wah, lumyan susah juga rupanya ya…?” kata ku, dengan nada pelan (maksudnya agar tidak menyinggung). Eh, nggak tahunya si panitia ketawa dan berkata “Saya sendiri juga belum bisa mempelajari semuanya, karena saya malas”. Wow….., aku kaget dengan ucapannya. Bukan karena takut telah menyinggung perasaanya, tetapi makna di dalam kalimatnya. “karena saya malas”. Betul sekali, selain terdapat kerendahan hati dalam kalimatnya, ternyata semua manusia di muka bumi ini lebih cenderung mengedepankan kehidupan di dunianya, dibandingkan kehidupan yang sebenarnya. Ngerti kan maksud aku…? Dalam kesehariannya, manusia lebih suka menggali sesuatu untuk memajukan kehidupannya sendiri ataupun kelompoknya. Mereka malas untuk menggali kehidupan saudara yang terlantar, kebobrokan dunia, kebijakan yang penuh dengan kebiadapan dan memperkosa moral mereka sendiri. Dengan kata “karena saya malas”, mungkin lebih tepat “karena kami manusia malas, yang tak pernah puas”. Hmm…., malunya diriku waktu berkata seperti itu. Oh, iya hampir lupa dari tujuan awalnya, dalam komik Tapak Budha juga tersirat pengertian, bahwa manusia jahat berusaha untuk menguasai kitab – kitab (senjata pusaka) Budha. Dengan menguasainya maka, mereka berniat untuk menaklukan dunia dan menjadi penguasa akan dunia. Yang lebih parah, kedatangan nabi2 palsu/penganut ajaran “aneh” yang berusaha melenyapkan makna kitab Budha itu sendiri. Fantastis…!


Yang keempat, adalah refleksi ajaran Budha dalam kehidupan manusia. Mulai dari pengertian kebenaran, nafsu, siklus kehidupan sampe pantangan atau aturan2. Menurutku, ini merupakan bagian terpenting dalam Budhis Festifal. Aku juga nggak nyangka, bahwa dengan beragamnya aliran ajaran Budha (yang disesuaikan dengan kebudayaan), ternyata tujuan akhirnya dalam kehidupan hanya satu. KASIH. Satu kalimat namun berjuta makna, tidak bisa dibeli dengan uang dan tidak bisa digantikan dengan nyawa. Dua jempol deh. Kasih emang tidak bisa dibeli dengan kekayaan, terbukti dari perjalanan sang Budha yang melepasakan kekayaannya dan cintanya pada keluarga. Ia rela meninggalkan semua demi KASIHnya. Nyawa, walaupun nyawa juga tidak bisa di beli, namun manusia mana yang rela melepaskan/menukarkan nyawa hanya demi KASIH. Bukan kayak cerita Romeo and Juliet yang akhirnya Romeo minum racun buat menemani kematian Juliet. Itu sih masih berdasarkan nafsu akan cinta. Sang Budha menawarkan nyawanya untuk musuhnya, agar si musuh bakalan mengenal KASIH. Apakah ada manusia seperti itu, yang tanpa embel2 rela menyerahkan nyawanya? Sama sih kayak cerita dalam komik Tapak Budha, membalas kejahatan dengan KASIH. Bukan dengan kekerasan, meledakan diri atau meneror! Benar nggak…?



Yang kelima, merupakan kehidupan nyata. Disini pengunjung akan diperkenalkan dengan seluruh kebudayaan agama Budha. Mulai dari simbolisasi keagamaan, renungan kehidupan, bahkan sampe kesenian tiap negara. Ternyata penyebaran agama Budha bukan hanya dari India ke Indonesia. Hampir semua belahan dunia telah menerima akan pengajaran Budha yang “Welas Asih” itu. Tapi sayangnya pas aku dan Epeng nyampe di sana, tarian keseniannya udah kelar. Sayang yah, padahal udah bayar Rp.5000,. (hehehe, nggak mau rugi dong….!). Oh iya ada juga replikasi patung “Budha Tidur”. Besarrrrrrrrrrrrrrrrr banget. Ceritanya kalo nggak salah, sang Budha akan melepaskan diri dari jiwa raganya, dan dari raganya akan terbentuk kristal2. Keren juga kan. Nah yang menjadi pertanyaan, pergi kemanakah roh sang Budha….?



Di penutupnya, biasa ada dagangan. Jual souvenir dan juganya dong kitab2, majalah, patung2, kalung dll. Yang aku herankan, kok ada yah penjual kartu GSM/CDMA. Apa hubungannya….? Hmm, mungkin bagian dari sponsor. Oh iya, yang buat aku jadi terkagum – kagum, adalah “tiket masuk dapat ditukar dengan, pembatas buku, majalah, renungan, kitab, dll. Semuanya tinggal di tukar. Wow, ikutan dong….!


Sebagi penutup tulisanku yang amat panjang ini, aku menyadari bahwa semua ajaran agama bertujuaan buat menyadarkan pemeluk agamanya masing2. We should Respected it. No War and Peace Only. Aku nulis ini bukan untuk membandingkan keyakinanku dengan keyakinan agama Budha. Tapi aku sangat berterima kasih karena telah diperkenalkan dengan ajaran agama Budha. Aku menghormatinya. Namun bukannya aku akan meyakininya. Karena aku tetap berpegang teguh pada keyakinanku, selamanya. Marilah kita semua bergadengan tangan untuk mewujudkan kedamaian dunia yang penuh KASIH. Amin……!

Iklan

Tentang zuckh

Suka hal yang baru, lebih dan panas.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

3 Balasan ke Buddhist Festival

  1. zuckh berkata:

    Hmm…., kayaknya bayak salah tulisan yah…? (Penulis aneh…!) kakakakakakaka

  2. Pimen berkata:

    Woi gajah..,
    Truz so insaf dunk ini.,shrxa dr cra penulisan artikel tapak budha dah penuh welas asih…
    Hehee

  3. zuckh berkata:

    Insaf…? Hampir aja insaf…! Udah 3 bulan puasa miras, eh pas 2 hari lalu, dengan sengaja muncul di “xxx xxxxx”. Rencana, mo kaseh selamat atas kedatangan Ari dari China, walau kalah, kakakaka. Nggak taunya pasukan smntra da “m*r*a*s”.
    Udah, nolak2 setengah mati. Tapi stengah hati da bilang “ah, cuma 1 teguk, ta rasa nda masalah”. Jadinya neguk deh,hhihihihihihih….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s