Tak heran, bila mesin satu ini menjadi primadona bagi perusahaan jasa konstruksi yang melayani pekerjaan konstruksi jalan dan jembatan. Sebut saja perusahaan dimana sekarang aku bernaung dan belajar, PT. Binatama Cipta Nusa. Salah satu perusahaan swasta yang kini telah menancapkan kukunya di Kab. Teluk Wondama, Papua Barat.
Stone Crusher yang mempunyai kapasitas output 60 ton/jam ini ternyata cukup “rakus” akan energi-untuk bahan bakarnya. Ia bisa menghabiskan 200 liter/hari selama pengoprasiannya. Jadi tak heran, diperlukan Generator raksasa sebesar 120 Kv selama pengoprasiannya.
Selama pengoprasiaannya, minimal dibutuhkan 1 unit alat berat excavator dan wheel loader serta 2 unit dump truck. Exavator dan wheel loader, berguna untuk proses pemuatan material (batu kali/batu gunung). Sedangkan Dump truck berguna untuk pengangkatan dari timbunan material (batu kali/ batu gunung) ke dalam unit joule.
Dari lubang joule, selanjutnya material (batu kali/ batu gunung) akan dipecah-pecah/ atau di tumbuk-tumbuk. Hasil tumbukan material ini selanjutnya akan masuk dalam screening atau ayakan/ saringan material. Tinggal diatur sesuai kebutuhan saja, ukuran fraksi berapa yang diperlukan.
Umumnya untuk pekerjaan konstruksi jalan, dibutuhkan 4 fraksi utama, yakni fraksi 1 (ukuran 3”-5”), fraksi 2 (ukuran 2”-3”), fraksi 3 (ukuran 1”-2”, ada yang menyebutnya cheaping) dan Fraksi 4 (abu batu, sebagai bahan filler).
Selain menghasilkan fraksi, mesin stone crusher juga dapat menghasilkan LPA (Lapis Pondasi Agregat). Untuk menghasilkan LPA, material yang dimasukan ke dalam lubang joule adalah sirtu kali atau sirtu gunung yang bercampur dengan tanah. Artinya sirtu ini, tidaklah sebesar batu kali/ batu gunung dan tidaklah sekecil fraksi 1.
Memang tidak semua hasil tumbukan dari lubang joule akan lansung masuk ke dalam lubang screening, oleh karena itu ada proses looping atau pengulangan tumbukan material. Artinya untuk menghasilkan fraksi yang ukurannya kecil diperlukan proses penumbukan ulang. Oleh karena itu, diperlukan 2 lubang joule untuk penumbukan. Joule yang kedua memiliki ukuran yang lebih kecil ketimbang joule pertama. Sehingga untuk menghasilkan suatu fraksi, diperlukan waktu yang cukup lama. Namun itu juga tergantung dari nilai efisien mesin. Semakin tua umur mesin, tentunya semakin banyak permasalahan yang terjadi, maka semakin sedikit juga output fraksi dan LPA yang dihasilkan.
Tak heran, karena kerumitan dalam proses pengolahan fraksi dan LPA, sedikitnya dibutuhkan 1 orang chief operator dan 4 orang assisten operator. Cief Operator bertanggung jawab penuh akan kondisi mesin dan output yang dihasilkan, sisanya, tugas akan pengaturan aliran tegangan dan kelistrikan, perbaikan dan maintenance mesin, yang di kerjakan oleh assisten operator.



“Penanganan Terkini Malaria Falciparum oleh Umar Zein, Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera utara”:





















